"what makes you different, makes you special" -Barbie.

Monday, 23 February 2015

Berbeda

Merasa sedih karena berbeda adalah wajar karena kita berharap untuk selalu bisa diterima oleh semua orang.
Menjadi berbeda adalah pilihan diri dan merupakan kesedihan,
atau sebuah penerimaan untuk menerima perbedaan menjadi keistimewaan.
Bukan karena perbedaan yang membuat kita terjatuh dan merasa iba pada diri sendiri.
Sebuah penolakan orang lain akan perbedaan yang kita miliki merupakan trauma bagi diri untuk bisa bangga terhadap perbedaan yang kita punya.

Pernahkah kalian bertanya pada diri sendiri bahwa sudahkan kalian tersenyum melihat dia yang berbeda lewat dihadapan kita?
Atau tanyakan pada diri kalian, ekspresi apa yang kalian refleks lakukan saat melihat dia yang berbeda hadir dihadapan kita?

Sadarkah kalian bahwa kita cenderung merasa tidak nyaman akan perbedaan orang disekeliling kita?
Atau terpikirkah oleh kalian bahwa kita cenderung mengelompok dengan dia yang memiliki kesamaan dengan kita?
Dan mengapa kita refleks menjauh terhadap dia yang berbeda dengan kita?

Saya pun begitu.
Saya pun menyadari.
Dan walaupun saya telah menyadari, sampai hari ini saya masih belajar untuk menerima semua perbedaan di dunia ini.
Saya pun juga masih belajar menerima perbedaan, karena saya berbeda dari kalian.

Tuesday, 18 November 2014

Saya telah mendengar.
Dan hati kini bernanar.
Hujan turun dengan gelegar.
Tapi entah, saya mencoba tegar.

Saya bisa apa?
Ketika semua dibiarkan lupa.
Entah demi cinta,
Atau karena janji semata.

Saya bisa apa?
Ketika semua berada dalam peran.
Hanya saya yang duduk terheran.

Saya menatap.
Semua dalam posisi senyap.
Saya merayap.
Tidak ada yang berubah.
Semua dalam posisi tetap.

Saya melihat.
Tapi semua terlihat seperti sebuah muslihat.
Saya mengumpat.
Yang terucap hanya lidah yang bersilat.

Thursday, 9 October 2014

Graduation Day

Bunga berhamburan didekap lengan kanan dan kiri.
Kata tumpah ruah mengucap selamat dan salam di pipi.
Banyak kilat lampu sorot bergantian membuat memori.
Kawan mendekat silih berganti ikut berbahagia dan sebagian mengucap rasa iri.

Ini adalah hari yang selalu dinanti.
Hari tanda bahwa perjuangan boleh diakhiri.
Sebuah hari yang menjadi saksi dari sebuah janji.
Janji tentang mengamalkan ilmu dan mengabdi untuk negeri,

Kembang senyum tanda bahagia memuncah dari dalam diri.
Melepas semua lelah dan getir hati.
Kemudian berkata pada diri,
"Istirahatlah sejenak sebelum menapaki jalan di depan yang berduri"

Wednesday, 1 October 2014

Hari pergi

Selamat datang pagi.
Pagi dimana saya akan pergi.
Bukan untuk lari,
Tapi untuk mulai berjalan diatas duri.

Selamat datang pagi.
Saya mencoba bersenang hati.
Bersinar dan tersenyum hangat seperti matahari.
Bersikap riang walau hanya sebuah ekspresi.

Selamat datang pagi.
Saya ingin bersuka hati.
Ingin melupakan dan memulai mengingat dulu indahnya memori.
Tapi yang terdengar hanya nada sindir.
Kata yang perih dan sangat menyakitkan hati.
Padahal hari ini adalah hari terakhir dan hari dimana saya akan pergi.

Tuesday, 26 August 2014

Semesta.

Halo semesta.
Saya tertidur untuk waktu yang lama.
Dulu saya menyapa dan semesta membalas.
Masih samakah?

Halo semesta.
Saya berdiam untuk waktu yang lama.
Dulu saya memandang dan semesta bersinar cerah.
Masih samakah?

Halo semesta.
Saya terbaring untuk waktu yang lama.
Dulu saya sesak dan udara semesta segar memenuhi rongga dada saya.
Masih samakah?

Halo semesta.
Saya berlari untuk waktu yang lama.
Dulu saya berkeringat dan semesta meniupkan angin segar.
Masih terjadikah?

Halo semesta.
Saya terlampau lama meminta pada semesta.
Melupakan bahwa semesta bukan penyedia segala.
Terlampau jauh menghabiskan kepunyaan semesta.

Saya lupa,
Tapi semesta selalu mengingatkan.

Saya menangis.
Dan saya lupa bahwa semesta juga menangis.

Friday, 18 July 2014

S for, suffix?

Kami dulu tidak saling menyapa bahkan bertanya.
Tidak saling bergurau atau memanja parau.
Kami tidak saling membenci dan tidak tahu cara mengasihi.

Kami duduk berdua menatap ke jalan.
Memasang sabuk pengaman.
Tidak lagi bersebrangan jalan.

Kami dulu tidak begini.
Tidak saling beropini.
Tidak saling menanggapi.

Saya teracuni oleh keadaan ini.
Dan sungguh saya menantikan ini.
Tidak tahu bagian mana yang salah.
Tapi semua bertahap diperbaiki.

Entah oleh siapa,
Yang jelas kini perih perlahan mulai pergi.
Saya ingin tetap seperti ini,
Bolehkah?

Wednesday, 16 July 2014

Kini, disini dan nanti.

Ini bukan tentang siapa yang selalu hadir atau tentang siapa yang hadir paling pertama.
Tapi tentang siapa yang berada disamping kita pada saat kita menangis dan terjatuh.

Ini bukan tentang siapa dan seberapa dekat jarak mereka.
Tapi tentang siapa yang dengan ikhlas dan sabar untuk selalu mendengar keluh kesah.

Ini bukan tentang siapa yang berada pada satu ikatan.
Tapi tentang siapa yang selalu memberi kenyamanan.

Bukan lagi tentang siapa yang selalu bersama.
Tapi tentang siapa yang selalu mendengar.

Ini miris.
Ketika terlalu banyak yang datang dan hadir.
Tapi hati merasa sendiri.

Ini sesak.
Saat memuncah rasa ingin teriak.
Tapi terhalang oleh suara yang begitu senyap.

Bukan menjadi masalah ketika memang harus pergi.
Tapi menjadi masalah apakah akan kembali?

Bukan menjadi masalah indah atau sedih saat ini.
Menjadi masalah apakah indah atau sedih masih akan diingat sampai nanti?