"what makes you different, makes you special" -Barbie.

Tuesday, 18 November 2014

Saya telah mendengar.
Dan hati kini bernanar.
Hujan turun dengan gelegar.
Tapi entah, saya mencoba tegar.

Saya bisa apa?
Ketika semua dibiarkan lupa.
Entah demi cinta,
Atau karena janji semata.

Saya bisa apa?
Ketika semua berada dalam peran.
Hanya saya yang duduk terheran.

Saya menatap.
Semua dalam posisi senyap.
Saya merayap.
Tidak ada yang berubah.
Semua dalam posisi tetap.

Saya melihat.
Tapi semua terlihat seperti sebuah muslihat.
Saya mengumpat.
Yang terucap hanya lidah yang bersilat.

Thursday, 9 October 2014

Graduation Day

Bunga berhamburan didekap lengan kanan dan kiri.
Kata tumpah ruah mengucap selamat dan salam di pipi.
Banyak kilat lampu sorot bergantian membuat memori.
Kawan mendekat silih berganti ikut berbahagia dan sebagian mengucap rasa iri.

Ini adalah hari yang selalu dinanti.
Hari tanda bahwa perjuangan boleh diakhiri.
Sebuah hari yang menjadi saksi dari sebuah janji.
Janji tentang mengamalkan ilmu dan mengabdi untuk negeri,

Kembang senyum tanda bahagia memuncah dari dalam diri.
Melepas semua lelah dan getir hati.
Kemudian berkata pada diri,
"Istirahatlah sejenak sebelum menapaki jalan di depan yang berduri"

Wednesday, 1 October 2014

Hari pergi

Selamat datang pagi.
Pagi dimana saya akan pergi.
Bukan untuk lari,
Tapi untuk mulai berjalan diatas duri.

Selamat datang pagi.
Saya mencoba bersenang hati.
Bersinar dan tersenyum hangat seperti matahari.
Bersikap riang walau hanya sebuah ekspresi.

Selamat datang pagi.
Saya ingin bersuka hati.
Ingin melupakan dan memulai mengingat dulu indahnya memori.
Tapi yang terdengar hanya nada sindir.
Kata yang perih dan sangat menyakitkan hati.
Padahal hari ini adalah hari terakhir dan hari dimana saya akan pergi.

Tuesday, 26 August 2014

Semesta.

Halo semesta.
Saya tertidur untuk waktu yang lama.
Dulu saya menyapa dan semesta membalas.
Masih samakah?

Halo semesta.
Saya berdiam untuk waktu yang lama.
Dulu saya memandang dan semesta bersinar cerah.
Masih samakah?

Halo semesta.
Saya terbaring untuk waktu yang lama.
Dulu saya sesak dan udara semesta segar memenuhi rongga dada saya.
Masih samakah?

Halo semesta.
Saya berlari untuk waktu yang lama.
Dulu saya berkeringat dan semesta meniupkan angin segar.
Masih terjadikah?

Halo semesta.
Saya terlampau lama meminta pada semesta.
Melupakan bahwa semesta bukan penyedia segala.
Terlampau jauh menghabiskan kepunyaan semesta.

Saya lupa,
Tapi semesta selalu mengingatkan.

Saya menangis.
Dan saya lupa bahwa semesta juga menangis.

Friday, 18 July 2014

S for, suffix?

Kami dulu tidak saling menyapa bahkan bertanya.
Tidak saling bergurau atau memanja parau.
Kami tidak saling membenci dan tidak tahu cara mengasihi.

Kami duduk berdua menatap ke jalan.
Memasang sabuk pengaman.
Tidak lagi bersebrangan jalan.

Kami dulu tidak begini.
Tidak saling beropini.
Tidak saling menanggapi.

Saya teracuni oleh keadaan ini.
Dan sungguh saya menantikan ini.
Tidak tahu bagian mana yang salah.
Tapi semua bertahap diperbaiki.

Entah oleh siapa,
Yang jelas kini perih perlahan mulai pergi.
Saya ingin tetap seperti ini,
Bolehkah?

Wednesday, 16 July 2014

Kini, disini dan nanti.

Ini bukan tentang siapa yang selalu hadir atau tentang siapa yang hadir paling pertama.
Tapi tentang siapa yang berada disamping kita pada saat kita menangis dan terjatuh.

Ini bukan tentang siapa dan seberapa dekat jarak mereka.
Tapi tentang siapa yang dengan ikhlas dan sabar untuk selalu mendengar keluh kesah.

Ini bukan tentang siapa yang berada pada satu ikatan.
Tapi tentang siapa yang selalu memberi kenyamanan.

Bukan lagi tentang siapa yang selalu bersama.
Tapi tentang siapa yang selalu mendengar.

Ini miris.
Ketika terlalu banyak yang datang dan hadir.
Tapi hati merasa sendiri.

Ini sesak.
Saat memuncah rasa ingin teriak.
Tapi terhalang oleh suara yang begitu senyap.

Bukan menjadi masalah ketika memang harus pergi.
Tapi menjadi masalah apakah akan kembali?

Bukan menjadi masalah indah atau sedih saat ini.
Menjadi masalah apakah indah atau sedih masih akan diingat sampai nanti?

Sunday, 13 July 2014

Saya yang berada di kejauhan.

Saya yang duduk diam sambil melihat dari kejauhan.
Sosok tegap yang datang dan mengambil duduk di sudut pojokan.

Saya yang duduk diam sambil melihat dari kejauhan.
Suara yang mantap berpendapat untuk memecah sebuah kebuntuan.

Saya yang duduk diam sambil melihat dari kejauhan.
Kamu bersikap tegas dan saya merasa segan.

Saya yang duduk diam sambil mengamati dari kejauhan.
Sikap yang meluruh tegang dan suasana menjadi menyenangkan.

Saya yang duduk diam sambil mengamati dari kejauhan.
Perlahan mendekat sosok tegap mengambil bagian dan mencipta perhatian.

Saya yang duduk diam sambil mengamati dari kejauhan.
Sosok itu memecah keramaian, menggenggam ketakutan menjadi seorang pahlawan.

Saya yang duduk diam sambil memandang kejauhan.
Merasa terguncang meragu asa perlahan.

Saya yang duduk diam sambil memandang kejauhan.
Menepis kemungkinan, memulai berlari sejajar kenyataan.

Saya yang duduk diam sambil memandang kejauhan.
Memuncah semua kenyataan, memutar menjadi tipuan.

Kamu yang berdiri melihat dari kejauhan.
Mengapa masih mencipta harapan kepada saya yang duduk diam sambil memandang kejauhan?