Tuhan memberikan kita kekhawatiran, kegundahan dan kesedihan berhari, berminggu, berbulan atau bertahun-tahun lamanya, namun Tuhan dapat menghapusnya hari, jam, bahkan detik ini musnah dan lenyap tak bersisa.
"what makes you different, makes you special" -Barbie.
Wednesday, 4 March 2015
Tuesday, 24 February 2015
Klasik
Andai detik jam berhenti dan tangan leluasa menopang pipi untuk tidak jatuh memerah, terus memandang dan terus.
Bila terlahir kembali,
Saya tidak akan berharap untuk tidak bertemu dan bertakdir lagi.
Saya tidak akan menangis menyesali diri dan memaki illahi.
Saya tidak akan berontak dan teriak atau bahkan berandai hal lain.
Membuang masa klasik demi memuaskan ego diri untuk hal yang menjadi sia-sia.
Mengeluh dan mengumpat dalam hati yang hanya buat frustasi logika.
Semua yang pernah ada hanya tersisa tinggal di akal.
Semua yang bahagia hanya tersimpan jauh dalam jiwa.
Berandai pagi tidak pernah hadir dan malam menunjukkan pesonanya pada bunga tidur.
Lelap memaksa mata tertutup agar bahagia mimpi tidak pudar dalam waktu yang singkat.
Berharap masih di ujung pagar menanti harap sambil memainkan jemari.
Sumringah mengembang dan kemudian kami berdua pergi.
Bila terlahir kembali,
Saya tidak akan berharap untuk tidak bertemu dan bertakdir lagi.
Saya tidak akan menangis menyesali diri dan memaki illahi.
Saya tidak akan berontak dan teriak atau bahkan berandai hal lain.
Membuang masa klasik demi memuaskan ego diri untuk hal yang menjadi sia-sia.
Mengeluh dan mengumpat dalam hati yang hanya buat frustasi logika.
Semua yang pernah ada hanya tersisa tinggal di akal.
Semua yang bahagia hanya tersimpan jauh dalam jiwa.
Berandai pagi tidak pernah hadir dan malam menunjukkan pesonanya pada bunga tidur.
Lelap memaksa mata tertutup agar bahagia mimpi tidak pudar dalam waktu yang singkat.
Berharap masih di ujung pagar menanti harap sambil memainkan jemari.
Sumringah mengembang dan kemudian kami berdua pergi.
Monday, 23 February 2015
Berbeda
Merasa sedih karena berbeda adalah wajar karena kita berharap untuk selalu bisa diterima oleh semua orang.
Menjadi berbeda adalah pilihan diri dan merupakan kesedihan,
atau sebuah penerimaan untuk menerima perbedaan menjadi keistimewaan.
Bukan karena perbedaan yang membuat kita terjatuh dan merasa iba pada diri sendiri.
Sebuah penolakan orang lain akan perbedaan yang kita miliki merupakan trauma bagi diri untuk bisa bangga terhadap perbedaan yang kita punya.
Pernahkah kalian bertanya pada diri sendiri bahwa sudahkan kalian tersenyum melihat dia yang berbeda lewat dihadapan kita?
Atau tanyakan pada diri kalian, ekspresi apa yang kalian refleks lakukan saat melihat dia yang berbeda hadir dihadapan kita?
Sadarkah kalian bahwa kita cenderung merasa tidak nyaman akan perbedaan orang disekeliling kita?
Atau terpikirkah oleh kalian bahwa kita cenderung mengelompok dengan dia yang memiliki kesamaan dengan kita?
Dan mengapa kita refleks menjauh terhadap dia yang berbeda dengan kita?
Saya pun begitu.
Saya pun menyadari.
Dan walaupun saya telah menyadari, sampai hari ini saya masih belajar untuk menerima semua perbedaan di dunia ini.
Saya pun juga masih belajar menerima perbedaan, karena saya berbeda dari kalian.
Tuesday, 18 November 2014
Saya telah mendengar.
Dan hati kini bernanar.
Hujan turun dengan gelegar.
Tapi entah, saya mencoba tegar.
Saya bisa apa?
Ketika semua dibiarkan lupa.
Entah demi cinta,
Atau karena janji semata.
Saya bisa apa?
Ketika semua berada dalam peran.
Hanya saya yang duduk terheran.
Saya menatap.
Semua dalam posisi senyap.
Saya merayap.
Tidak ada yang berubah.
Semua dalam posisi tetap.
Saya melihat.
Tapi semua terlihat seperti sebuah muslihat.
Saya mengumpat.
Yang terucap hanya lidah yang bersilat.
Dan hati kini bernanar.
Hujan turun dengan gelegar.
Tapi entah, saya mencoba tegar.
Saya bisa apa?
Ketika semua dibiarkan lupa.
Entah demi cinta,
Atau karena janji semata.
Saya bisa apa?
Ketika semua berada dalam peran.
Hanya saya yang duduk terheran.
Saya menatap.
Semua dalam posisi senyap.
Saya merayap.
Tidak ada yang berubah.
Semua dalam posisi tetap.
Saya melihat.
Tapi semua terlihat seperti sebuah muslihat.
Saya mengumpat.
Yang terucap hanya lidah yang bersilat.
Thursday, 9 October 2014
Graduation Day
Bunga berhamburan didekap lengan kanan dan kiri.
Kata tumpah ruah mengucap selamat dan salam di pipi.
Banyak kilat lampu sorot bergantian membuat memori.
Kawan mendekat silih berganti ikut berbahagia dan sebagian mengucap rasa iri.
Ini adalah hari yang selalu dinanti.
Hari tanda bahwa perjuangan boleh diakhiri.
Sebuah hari yang menjadi saksi dari sebuah janji.
Janji tentang mengamalkan ilmu dan mengabdi untuk negeri,
Kembang senyum tanda bahagia memuncah dari dalam diri.
Melepas semua lelah dan getir hati.
Kemudian berkata pada diri,
"Istirahatlah sejenak sebelum menapaki jalan di depan yang berduri"
Wednesday, 1 October 2014
Hari pergi
Selamat datang pagi.
Pagi dimana saya akan pergi.
Bukan untuk lari,
Tapi untuk mulai berjalan diatas duri.
Selamat datang pagi.
Saya mencoba bersenang hati.
Bersinar dan tersenyum hangat seperti matahari.
Bersikap riang walau hanya sebuah ekspresi.
Selamat datang pagi.
Saya ingin bersuka hati.
Ingin melupakan dan memulai mengingat dulu indahnya memori.
Tapi yang terdengar hanya nada sindir.
Kata yang perih dan sangat menyakitkan hati.
Padahal hari ini adalah hari terakhir dan hari dimana saya akan pergi.
Pagi dimana saya akan pergi.
Bukan untuk lari,
Tapi untuk mulai berjalan diatas duri.
Selamat datang pagi.
Saya mencoba bersenang hati.
Bersinar dan tersenyum hangat seperti matahari.
Bersikap riang walau hanya sebuah ekspresi.
Selamat datang pagi.
Saya ingin bersuka hati.
Ingin melupakan dan memulai mengingat dulu indahnya memori.
Tapi yang terdengar hanya nada sindir.
Kata yang perih dan sangat menyakitkan hati.
Padahal hari ini adalah hari terakhir dan hari dimana saya akan pergi.
Tuesday, 26 August 2014
Semesta.
Halo semesta.
Saya tertidur untuk waktu yang lama.
Dulu saya menyapa dan semesta membalas.
Masih samakah?
Halo semesta.
Saya berdiam untuk waktu yang lama.
Dulu saya memandang dan semesta bersinar cerah.
Masih samakah?
Halo semesta.
Saya terbaring untuk waktu yang lama.
Dulu saya sesak dan udara semesta segar memenuhi rongga dada saya.
Masih samakah?
Halo semesta.
Saya berlari untuk waktu yang lama.
Dulu saya berkeringat dan semesta meniupkan angin segar.
Masih terjadikah?
Halo semesta.
Saya terlampau lama meminta pada semesta.
Melupakan bahwa semesta bukan penyedia segala.
Terlampau jauh menghabiskan kepunyaan semesta.
Saya lupa,
Tapi semesta selalu mengingatkan.
Saya menangis.
Dan saya lupa bahwa semesta juga menangis.
Saya tertidur untuk waktu yang lama.
Dulu saya menyapa dan semesta membalas.
Masih samakah?
Halo semesta.
Saya berdiam untuk waktu yang lama.
Dulu saya memandang dan semesta bersinar cerah.
Masih samakah?
Halo semesta.
Saya terbaring untuk waktu yang lama.
Dulu saya sesak dan udara semesta segar memenuhi rongga dada saya.
Masih samakah?
Halo semesta.
Saya berlari untuk waktu yang lama.
Dulu saya berkeringat dan semesta meniupkan angin segar.
Masih terjadikah?
Halo semesta.
Saya terlampau lama meminta pada semesta.
Melupakan bahwa semesta bukan penyedia segala.
Terlampau jauh menghabiskan kepunyaan semesta.
Saya lupa,
Tapi semesta selalu mengingatkan.
Saya menangis.
Dan saya lupa bahwa semesta juga menangis.
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)