"what makes you different, makes you special" -Barbie.

Sunday, 10 May 2015

Wish.

Bila nyatanya embun tidak menyejukkan pagi, maka jangan biarkan malam sabit hadir dengan elok, Tuhan.

Sunday, 5 April 2015

Pagi baru

Hening pagi tidak lagi sama seperti kemarin.
Berkaca di cermin lalu merapihkan diri dan mengoleskan perona.
Berjalan santai sambil terkantuk lalu mengucap pagi pada ruang yang kosong.
Duduk tersandar dengan kepala tertunduk di meja.

Hening pagi tidak akan pernah sama seperti kemarin.
Menatap kaca berkata pada diri bahwa hari ini harus lebih kuat dari kemarin.
Berjalan santai dan lelah terduduk di depan lift.
Menunggu keramaian karena takut sesak ini akan pecah.

Saya tidak terlalu peduli pada mereka yang menatap rendah.
Tidak terlalu keberatan kalau mereka ingin berlari meninggalkan saya dibelakang.
Bukan masalah bila saya harus merayap.
Karena saat ini saya masih takut senyap.

Lihat saya hidup sederhana.
Bahagia bila harus bahagia.
Dan menangis ketika memang merasa sesak.

Saya memang hidup tanpa lebih.
Bersyukur lewat doa.
Dan berdoa memohon pengampunan.

Tidak akan boleh lupa.
Banyak semangat diberikan oleh mereka.
Banyak doa dipanjatkan untuk menyertai langkah.

Hening pagi ini pasti akan terasa baru.
Boleh jadi akan berlipat lebih dingin atau malah menyejukkan rongga paru.
Tetapi malam kemarin akan sama rasanya seperti malam yang pernah berlalu dulu.
Banyak bintang bersorot terang di tengah malam yang gelap, dingin dan sepi.

Wednesday, 4 March 2015

Maha Besar

Tuhan memberikan kita kekhawatiran, kegundahan dan kesedihan berhari, berminggu, berbulan atau bertahun-tahun lamanya, namun Tuhan dapat menghapusnya hari, jam, bahkan detik ini musnah dan lenyap tak bersisa.

Tuesday, 24 February 2015

Klasik

Andai detik jam berhenti dan tangan leluasa menopang pipi untuk tidak jatuh memerah, terus memandang dan terus.

Bila terlahir kembali,
Saya tidak akan berharap untuk tidak bertemu dan bertakdir lagi.
Saya tidak akan menangis menyesali diri dan memaki illahi.
Saya tidak akan berontak dan teriak atau bahkan berandai hal lain.

Membuang masa klasik demi memuaskan ego diri untuk hal yang menjadi sia-sia.
Mengeluh dan mengumpat dalam hati yang hanya buat frustasi logika.
Semua yang pernah ada hanya tersisa tinggal di akal.
Semua yang bahagia hanya tersimpan jauh dalam jiwa.

Berandai pagi tidak pernah hadir dan malam menunjukkan pesonanya pada bunga tidur.
Lelap memaksa mata tertutup agar bahagia mimpi tidak pudar dalam waktu yang singkat.
Berharap masih di ujung pagar menanti harap sambil memainkan jemari.
Sumringah mengembang dan kemudian kami berdua pergi.

Monday, 23 February 2015

Berbeda

Merasa sedih karena berbeda adalah wajar karena kita berharap untuk selalu bisa diterima oleh semua orang.
Menjadi berbeda adalah pilihan diri dan merupakan kesedihan,
atau sebuah penerimaan untuk menerima perbedaan menjadi keistimewaan.
Bukan karena perbedaan yang membuat kita terjatuh dan merasa iba pada diri sendiri.
Sebuah penolakan orang lain akan perbedaan yang kita miliki merupakan trauma bagi diri untuk bisa bangga terhadap perbedaan yang kita punya.

Pernahkah kalian bertanya pada diri sendiri bahwa sudahkan kalian tersenyum melihat dia yang berbeda lewat dihadapan kita?
Atau tanyakan pada diri kalian, ekspresi apa yang kalian refleks lakukan saat melihat dia yang berbeda hadir dihadapan kita?

Sadarkah kalian bahwa kita cenderung merasa tidak nyaman akan perbedaan orang disekeliling kita?
Atau terpikirkah oleh kalian bahwa kita cenderung mengelompok dengan dia yang memiliki kesamaan dengan kita?
Dan mengapa kita refleks menjauh terhadap dia yang berbeda dengan kita?

Saya pun begitu.
Saya pun menyadari.
Dan walaupun saya telah menyadari, sampai hari ini saya masih belajar untuk menerima semua perbedaan di dunia ini.
Saya pun juga masih belajar menerima perbedaan, karena saya berbeda dari kalian.

Tuesday, 18 November 2014

Saya telah mendengar.
Dan hati kini bernanar.
Hujan turun dengan gelegar.
Tapi entah, saya mencoba tegar.

Saya bisa apa?
Ketika semua dibiarkan lupa.
Entah demi cinta,
Atau karena janji semata.

Saya bisa apa?
Ketika semua berada dalam peran.
Hanya saya yang duduk terheran.

Saya menatap.
Semua dalam posisi senyap.
Saya merayap.
Tidak ada yang berubah.
Semua dalam posisi tetap.

Saya melihat.
Tapi semua terlihat seperti sebuah muslihat.
Saya mengumpat.
Yang terucap hanya lidah yang bersilat.

Thursday, 9 October 2014

Graduation Day

Bunga berhamburan didekap lengan kanan dan kiri.
Kata tumpah ruah mengucap selamat dan salam di pipi.
Banyak kilat lampu sorot bergantian membuat memori.
Kawan mendekat silih berganti ikut berbahagia dan sebagian mengucap rasa iri.

Ini adalah hari yang selalu dinanti.
Hari tanda bahwa perjuangan boleh diakhiri.
Sebuah hari yang menjadi saksi dari sebuah janji.
Janji tentang mengamalkan ilmu dan mengabdi untuk negeri,

Kembang senyum tanda bahagia memuncah dari dalam diri.
Melepas semua lelah dan getir hati.
Kemudian berkata pada diri,
"Istirahatlah sejenak sebelum menapaki jalan di depan yang berduri"