"what makes you different, makes you special" -Barbie.

Sunday, 8 August 2021

Awal Baru

Kemana katanya
Tertidur diranjang
Didorong kesebuah ruang

Dimana katanya
Melihat kiri kanan
Terlihat antri dan saling menguatkan

Bagaimana rupanya
Terlilit sehelai kain tanpa jahitan
Menggigil dingin bukan lagi sebuah pilihan

Seperti apa keadaannya
Obrolan meluruh tegang
Tertawa sebagai pengalih perhatian

Apa ekspresinya
Bersiap masing-masing peralatan perang
Dimulai sesuai masing-masing kepercayaan

Kapan permulaannya
Menghirup paksa gas penenang
Lumpuh semua kesadaraan

Bagaimana hasilnya
Meluruh semua kepercayaan
Merangkak menuju sebuah awalan

Seperti apa dihari hari
Belajar dari semua kenang
Memulai lagi hidup dengan tenang

Thursday, 22 October 2020

Prioritas Sempurna

Rasanya begitu biasa
Biasa menemani kawan
Biasa untuk memberi dukungan

Rasanya seperti biasa
Mengungkap kekhawatiran
Merespon senyuman berusaha menenangkan

Rasanya menjadi begitu tak biasa
Ketika semua berbalik
Tertawaan yang berbalik dan menjadi sebuah masalah pelik

Berusaha pun selalu terjadi
Terjadi dihari hari
Dilakukan dengan penuh semangat dan keyakinan diri

Menjalani beberapa opsi
Menghindari diagnosa diri
Mencari beberapa opini

Berusaha kali itu berbeda secara pribadi
Nyaris lumpuh sampai ke nadi
Meruntuhkan kepercayaan diri

Gerak tersenyum sulit sekali simetri
Keluhan dan tangis adalah kawan dihari hari
Berkedip menjadi perjuangan tersendiri

Rasanya menjadi berbeda
Bagaimana suatu yang sederhana menjadi sangat berharga
Bagaimana percaya bahwa hari penantian itu pasti ada

Saat ini semua tampak biasa
Kata normal menjadi sangat istimewa
Bahagia karena dapat mengekspresikan apa itu ekspresi bahagia

Saat ini semua tampak tidak biasa
Ketika menjadi berbeda
Memilih untuk sehat adalah hal utama
Menghargai diri sendiri mutlak prioritas yang sempurna


Saturday, 22 August 2015

Biar kalian bilang apa.

Katakan saya penakut.
Kepada dunia yang berputar begitu cepat.
Hingga poros nya tidak lagi terlihat.

Katakan saya penakut.
Kepada cuaca pagi yg sejuk berembun.
Seketika turun hujan yang rimbun.

Katakan saya penakut.
Kepada dunia yang memiliki segala indera.
Mendengar dan bicara tidak lagi seksama.

Katakan saya penakut.
Kepada atmosfer yang telah usang.
Menjebak segala polutan hingga tiada lagi ruang.

Katakan saya penakut.
Tidak lagi rasa percaya.
Hidup pada dasar yg saya percaya.

Katakan saya penakut.
Ketika saya tidak lagi mendengar.
Dan terus berbicara seakan telinga tidak bisa dengar.

Katakan saya penakut.
Kepada segala yg telah dilakukan.
Akankah nanti saya mendapat balasan?

Katakan saya penakut.
Pada diri yang tidak lagi dapat berdiri kokoh.
Hingga terasa remuk dan entah kapan dapat roboh.

Katakan saya penakut.
Kepada semua yang dititipkan-Nya.
Akankah semua berbuat kebaikan atau justru menambah dosa?

Sunday, 10 May 2015

Wish.

Bila nyatanya embun tidak menyejukkan pagi, maka jangan biarkan malam sabit hadir dengan elok, Tuhan.

Sunday, 5 April 2015

Pagi baru

Hening pagi tidak lagi sama seperti kemarin.
Berkaca di cermin lalu merapihkan diri dan mengoleskan perona.
Berjalan santai sambil terkantuk lalu mengucap pagi pada ruang yang kosong.
Duduk tersandar dengan kepala tertunduk di meja.

Hening pagi tidak akan pernah sama seperti kemarin.
Menatap kaca berkata pada diri bahwa hari ini harus lebih kuat dari kemarin.
Berjalan santai dan lelah terduduk di depan lift.
Menunggu keramaian karena takut sesak ini akan pecah.

Saya tidak terlalu peduli pada mereka yang menatap rendah.
Tidak terlalu keberatan kalau mereka ingin berlari meninggalkan saya dibelakang.
Bukan masalah bila saya harus merayap.
Karena saat ini saya masih takut senyap.

Lihat saya hidup sederhana.
Bahagia bila harus bahagia.
Dan menangis ketika memang merasa sesak.

Saya memang hidup tanpa lebih.
Bersyukur lewat doa.
Dan berdoa memohon pengampunan.

Tidak akan boleh lupa.
Banyak semangat diberikan oleh mereka.
Banyak doa dipanjatkan untuk menyertai langkah.

Hening pagi ini pasti akan terasa baru.
Boleh jadi akan berlipat lebih dingin atau malah menyejukkan rongga paru.
Tetapi malam kemarin akan sama rasanya seperti malam yang pernah berlalu dulu.
Banyak bintang bersorot terang di tengah malam yang gelap, dingin dan sepi.

Wednesday, 4 March 2015

Maha Besar

Tuhan memberikan kita kekhawatiran, kegundahan dan kesedihan berhari, berminggu, berbulan atau bertahun-tahun lamanya, namun Tuhan dapat menghapusnya hari, jam, bahkan detik ini musnah dan lenyap tak bersisa.

Tuesday, 24 February 2015

Klasik

Andai detik jam berhenti dan tangan leluasa menopang pipi untuk tidak jatuh memerah, terus memandang dan terus.

Bila terlahir kembali,
Saya tidak akan berharap untuk tidak bertemu dan bertakdir lagi.
Saya tidak akan menangis menyesali diri dan memaki illahi.
Saya tidak akan berontak dan teriak atau bahkan berandai hal lain.

Membuang masa klasik demi memuaskan ego diri untuk hal yang menjadi sia-sia.
Mengeluh dan mengumpat dalam hati yang hanya buat frustasi logika.
Semua yang pernah ada hanya tersisa tinggal di akal.
Semua yang bahagia hanya tersimpan jauh dalam jiwa.

Berandai pagi tidak pernah hadir dan malam menunjukkan pesonanya pada bunga tidur.
Lelap memaksa mata tertutup agar bahagia mimpi tidak pudar dalam waktu yang singkat.
Berharap masih di ujung pagar menanti harap sambil memainkan jemari.
Sumringah mengembang dan kemudian kami berdua pergi.

Monday, 23 February 2015

Berbeda

Merasa sedih karena berbeda adalah wajar karena kita berharap untuk selalu bisa diterima oleh semua orang.
Menjadi berbeda adalah pilihan diri dan merupakan kesedihan,
atau sebuah penerimaan untuk menerima perbedaan menjadi keistimewaan.
Bukan karena perbedaan yang membuat kita terjatuh dan merasa iba pada diri sendiri.
Sebuah penolakan orang lain akan perbedaan yang kita miliki merupakan trauma bagi diri untuk bisa bangga terhadap perbedaan yang kita punya.

Pernahkah kalian bertanya pada diri sendiri bahwa sudahkan kalian tersenyum melihat dia yang berbeda lewat dihadapan kita?
Atau tanyakan pada diri kalian, ekspresi apa yang kalian refleks lakukan saat melihat dia yang berbeda hadir dihadapan kita?

Sadarkah kalian bahwa kita cenderung merasa tidak nyaman akan perbedaan orang disekeliling kita?
Atau terpikirkah oleh kalian bahwa kita cenderung mengelompok dengan dia yang memiliki kesamaan dengan kita?
Dan mengapa kita refleks menjauh terhadap dia yang berbeda dengan kita?

Saya pun begitu.
Saya pun menyadari.
Dan walaupun saya telah menyadari, sampai hari ini saya masih belajar untuk menerima semua perbedaan di dunia ini.
Saya pun juga masih belajar menerima perbedaan, karena saya berbeda dari kalian.

Tuesday, 18 November 2014

Saya telah mendengar.
Dan hati kini bernanar.
Hujan turun dengan gelegar.
Tapi entah, saya mencoba tegar.

Saya bisa apa?
Ketika semua dibiarkan lupa.
Entah demi cinta,
Atau karena janji semata.

Saya bisa apa?
Ketika semua berada dalam peran.
Hanya saya yang duduk terheran.

Saya menatap.
Semua dalam posisi senyap.
Saya merayap.
Tidak ada yang berubah.
Semua dalam posisi tetap.

Saya melihat.
Tapi semua terlihat seperti sebuah muslihat.
Saya mengumpat.
Yang terucap hanya lidah yang bersilat.

Thursday, 9 October 2014

Graduation Day

Bunga berhamburan didekap lengan kanan dan kiri.
Kata tumpah ruah mengucap selamat dan salam di pipi.
Banyak kilat lampu sorot bergantian membuat memori.
Kawan mendekat silih berganti ikut berbahagia dan sebagian mengucap rasa iri.

Ini adalah hari yang selalu dinanti.
Hari tanda bahwa perjuangan boleh diakhiri.
Sebuah hari yang menjadi saksi dari sebuah janji.
Janji tentang mengamalkan ilmu dan mengabdi untuk negeri,

Kembang senyum tanda bahagia memuncah dari dalam diri.
Melepas semua lelah dan getir hati.
Kemudian berkata pada diri,
"Istirahatlah sejenak sebelum menapaki jalan di depan yang berduri"

Wednesday, 1 October 2014

Hari pergi

Selamat datang pagi.
Pagi dimana saya akan pergi.
Bukan untuk lari,
Tapi untuk mulai berjalan diatas duri.

Selamat datang pagi.
Saya mencoba bersenang hati.
Bersinar dan tersenyum hangat seperti matahari.
Bersikap riang walau hanya sebuah ekspresi.

Selamat datang pagi.
Saya ingin bersuka hati.
Ingin melupakan dan memulai mengingat dulu indahnya memori.
Tapi yang terdengar hanya nada sindir.
Kata yang perih dan sangat menyakitkan hati.
Padahal hari ini adalah hari terakhir dan hari dimana saya akan pergi.

Tuesday, 26 August 2014

Semesta.

Halo semesta.
Saya tertidur untuk waktu yang lama.
Dulu saya menyapa dan semesta membalas.
Masih samakah?

Halo semesta.
Saya berdiam untuk waktu yang lama.
Dulu saya memandang dan semesta bersinar cerah.
Masih samakah?

Halo semesta.
Saya terbaring untuk waktu yang lama.
Dulu saya sesak dan udara semesta segar memenuhi rongga dada saya.
Masih samakah?

Halo semesta.
Saya berlari untuk waktu yang lama.
Dulu saya berkeringat dan semesta meniupkan angin segar.
Masih terjadikah?

Halo semesta.
Saya terlampau lama meminta pada semesta.
Melupakan bahwa semesta bukan penyedia segala.
Terlampau jauh menghabiskan kepunyaan semesta.

Saya lupa,
Tapi semesta selalu mengingatkan.

Saya menangis.
Dan saya lupa bahwa semesta juga menangis.

Friday, 18 July 2014

S for, suffix?

Kami dulu tidak saling menyapa bahkan bertanya.
Tidak saling bergurau atau memanja parau.
Kami tidak saling membenci dan tidak tahu cara mengasihi.

Kami duduk berdua menatap ke jalan.
Memasang sabuk pengaman.
Tidak lagi bersebrangan jalan.

Kami dulu tidak begini.
Tidak saling beropini.
Tidak saling menanggapi.

Saya teracuni oleh keadaan ini.
Dan sungguh saya menantikan ini.
Tidak tahu bagian mana yang salah.
Tapi semua bertahap diperbaiki.

Entah oleh siapa,
Yang jelas kini perih perlahan mulai pergi.
Saya ingin tetap seperti ini,
Bolehkah?

Wednesday, 16 July 2014

Kini, disini dan nanti.

Ini bukan tentang siapa yang selalu hadir atau tentang siapa yang hadir paling pertama.
Tapi tentang siapa yang berada disamping kita pada saat kita menangis dan terjatuh.

Ini bukan tentang siapa dan seberapa dekat jarak mereka.
Tapi tentang siapa yang dengan ikhlas dan sabar untuk selalu mendengar keluh kesah.

Ini bukan tentang siapa yang berada pada satu ikatan.
Tapi tentang siapa yang selalu memberi kenyamanan.

Bukan lagi tentang siapa yang selalu bersama.
Tapi tentang siapa yang selalu mendengar.

Ini miris.
Ketika terlalu banyak yang datang dan hadir.
Tapi hati merasa sendiri.

Ini sesak.
Saat memuncah rasa ingin teriak.
Tapi terhalang oleh suara yang begitu senyap.

Bukan menjadi masalah ketika memang harus pergi.
Tapi menjadi masalah apakah akan kembali?

Bukan menjadi masalah indah atau sedih saat ini.
Menjadi masalah apakah indah atau sedih masih akan diingat sampai nanti?

Sunday, 13 July 2014

Saya yang berada di kejauhan.

Saya yang duduk diam sambil melihat dari kejauhan.
Sosok tegap yang datang dan mengambil duduk di sudut pojokan.

Saya yang duduk diam sambil melihat dari kejauhan.
Suara yang mantap berpendapat untuk memecah sebuah kebuntuan.

Saya yang duduk diam sambil melihat dari kejauhan.
Kamu bersikap tegas dan saya merasa segan.

Saya yang duduk diam sambil mengamati dari kejauhan.
Sikap yang meluruh tegang dan suasana menjadi menyenangkan.

Saya yang duduk diam sambil mengamati dari kejauhan.
Perlahan mendekat sosok tegap mengambil bagian dan mencipta perhatian.

Saya yang duduk diam sambil mengamati dari kejauhan.
Sosok itu memecah keramaian, menggenggam ketakutan menjadi seorang pahlawan.

Saya yang duduk diam sambil memandang kejauhan.
Merasa terguncang meragu asa perlahan.

Saya yang duduk diam sambil memandang kejauhan.
Menepis kemungkinan, memulai berlari sejajar kenyataan.

Saya yang duduk diam sambil memandang kejauhan.
Memuncah semua kenyataan, memutar menjadi tipuan.

Kamu yang berdiri melihat dari kejauhan.
Mengapa masih mencipta harapan kepada saya yang duduk diam sambil memandang kejauhan?

Tuesday, 8 July 2014

Rencana Tuhan

Mereka bilang takdir adalah sesuatu yang mutlak yang Tuhan ciptakan untuk kita.
Sebagian mereka bilang, bahwa takdir adalah sesuatu yang dapat berubah tergantung dari niat dan kerja keras untuk merubahnya.

Mereka selalu bilang bahwa saya bisa dan selanjutkan pasrahkan semua kembali pada Tuhan.
Sebagian mereka bilang bahwa saya pasti bisa dan mereka meyakinkan.

Mereka selalu bilang bahwa saya telah cukup berusaha dan saya harus mengikhlaskan.
Sebagian dari diri saya bilang saya belum cukup berusaha dan saya mengecewakan.

Lalu,
Mereka bilang saya pantas mendapatkan dan saya harus bersyukur pada Tuhan.
Sebagian dari diri saya bilang saya tidak layak mendapatkan dan ini terlalu berlebihan.

Sebelumnya, saya selalu menyepelekan tapi nikmat yang Tuhan berikan.
Kini saya berusaha keras dan mempasrahkan, kemudian saya mengecewakan, tapi Tuhan merasa kasihan.

dan kemudian saya menyimpulkan bahwa saya harus bersyukur karena nikmat ini adalah Rencana Tuhan.

Friday, 4 July 2014

Rasa terpana.

Bukan salahmu menebar pesona yang kemudian memikatku.
Bukan mauku berdegup jantung melihat senyumanmu.
Tidak pernah salah sebuah kebetulan karena kita sama menyukai sesuatu.
Tidak akan aku salahkan pikiranku yang selalu terbayang tawa renyah itu.

Rasa ini sungguh besar dan inginku ungkap semua.
Degup ini terlalu kencang untukku simpan di jiwa.
Tekad ini terlampau kuat untuk katakan yang sebernarnya.
Luluh ini terlanjur banyak teramat hingga tak ada yang tersisa..

Tapi malu lunturkan ingin tuk jujur apa adanya.
Takut buat hati ini ciut lemas tak berdaya.
Pesimis muncul dan rasa pengecut itu menular masuk ke asa.
Sampai tidak ada lagi kata dan hancurkan semangat tuk bilang semua rasa..


Saturday, 7 June 2014

CERITAKU

Saat dunia lahir dalam ingatanku,
aku mulai belajar dan terbentuk kesombongan dalam diriku.
Tidak pernah mendengar dan selalu idealis pada satu pemikiran diri sendiri.
Lalu, apa kata mereka?
Mereka mendekat, lalu meminta.
Dapat, lalu meninggalkan.

Saat dunia mulai meluas,
aku mulai belajar tentang pertemanan, tentang cinta dan tentang kebobrokan.
Tidak pernah bersusah dan beranggapan bahwa hidup harus dinikmati.
Lalu, apa kata mereka?
Sebagian menerima dan sebagian mengangkat satu alis mereka.
Mereka datang dan selalu pergi. Tidak ada yang tertinggal.

Saat dunia baru muncul,
aku mulai belajar tentang bagaimana semua yang salah harus diperbaiki.
Tidak pernah menunduk dan selalu mecoba belajar untuk positif.
Lalu, apa kata mereka?
Tidak ada yang meninggalkan, tapi berpisah karena telah berbeda jalan.
Mereka yang baik tinggal untuk waktu yang lama dalam kondisi yang beragam.

Saat dunia mulai matang,
aku mulai belajar tentang bagaimana bertanggung jawab.
Tidak pernah mengambil sulit dan menjadikan semua sederhana hingga selesai.
Lalu, apa kata mereka?
Mereka sama. Baik dan normal.
Tapi apakah mereka sebenarnya benar baik?
Berapa banyak temanmu di dunia ini?
Berapa banyak yang hadir di hari-hari mu?
Berapa banyak yang menyapa mu tiap bertemu dengan mu?
Berapa banyak yang hadir untuk berbagi tawa bersama mu?
Berapa banyak yang memiliki kesamaan pikiran dengan mu?
Berapa banyak yang datang membantu mu?
dan setelah itu,
Berapa banyak yang hadir untuk berbagi tangis bersama mu?
Berapa banyak yang tinggal untuk menjadi saksi pencapaian sukses mu?
Berapa banyak yang tinggal untuk menjadi saksi hari besar bahagia mu?
Berapa banyak yang tinggal dengan mu hingga akhir hidupmu?

Sunday, 17 March 2013

Quote of The Day

Even a single person can change the world.
Make the impossible, possible.
Break the shackles of old values,
and discover a new common sense.
- Toru Hyuga.
on Rich Man Poor Woman.